Melongok Tempat Sampah di Osaka

January 11, 2010

Maishima Plant Osaka, tampak depan.

Tempat pembuangan sampah biasanya identik dengan pemandangan jorok, kotor, becek, dan bau busuk yang menyengat. Namun, semua kesan itu sama sekali tak nampak di tempat pembuangan sampah yang dikelola oleh Biro Lingkungan Lidup pemerintah Osaka, Jepang. Sampah, yang di Jakarta justru menjadi beban publik, di Osaka Jepang ternyata bisa “disulap” menjadi tenaga listrik, bahkan merupakan bahan campuran untuk mereklamasi laut.

Pemerintah Osaka nampaknya memang tidak setengah-setengah dalam mengelola sampah. Di tempat pembuangan dan pengolahan sampah yang bernama Maishima Plant Osaka itu, Anda akan melihat disain arsitektur gedung yang mirip dengan tempat bermain anak-anak atau mungkin sebuah mall, dengan kualitas kebersihan yang tak beda dengan hotel berbintang. Saking artistiknya gedung pengolahan sampah ini, hingga tak jarang calon pengunjung Universal Studio Japan yang salah masuk ke tempat ini, karena kebetulan letaknya yang saling berdekatan.

Keiichi Higuchi dan Pak Willy

PR officer Maishima Plant Keiichi Higuchi mengatakan, pemerintah menyadari bahwa tempat sampah adalah tempat yang paling dihindari oleh banyak orang. Oleh karena itu, Maishima Plant Osaka sengaja didisain sedemikian rupa agar banyak menarik minat masyarakat terutama kalangan remaja dan anak-anak. Sebab, Higuchi dengan yakin menegaskan, justru di tempat inilah remaja dan anak-anak bisa belajar banyak tentang pengolahan sampah, sehingga diharapkan dapat mendorong generasi muda Jepang untuk makin cinta akan kebersihan.

Salah satu ruang di dalam MPO

Dalam penglihatan kami saat berkunjung ke tempat itu Desember 2009 lalu, melalui papan informasi di lobby depan gedung itu dijelaskan bahwa eksterior Maishima Plant didisain secara khusus oleh arsitek asal Austria, Master Friedensreich Hundertwasser (1928 – 2000). Disain eksterior gedung itu, oleh sang arsitek, sengaja dirancang untuk menyimbolkan suatu harmoni antara teknologi, ekologi dan seni. Bagi Master Hundertwasser, karena garis lurus dan objek yang identik pada dasarnya tidak ada dalam alam, maka ia memadukan kurva dalam setiap detil garis ke dalam gedung tersebut sebagai simbol keterpaduan alam. Sedangkan warna merah dan kuning pada dinding luar gedung menyimbolkan nyala api yang merupakan inti dari semua yang terjadi di dalam gedung itu.

Keiichi Higuchi menjelaskan, bahwa di tempat itu sampah diolah untuk kemudian dikonversi menjadi tenaga listrik. Total daya listrik yang dihasilkan dari pengolahan sampah di tempat ini saja, mampu menggerakkan dinamika Maishima Plant, dan separohnya dijual kepada pemerintah Osaka.

Daya listrik yang dihasilkan, berfluktuasi sesuai dengan tingkat kering dan basahnya sampah yang masuk ke tempat pengolahan. Sampah yang dapat diolah di tempat itu terbagi menjadi beberapa kategori, yaitu sampah rumah tangga, sampah plastik atau kayu, dan sampah logam. Semakin kering sampah, maka semakin besar listrik yang dihasilkan. Semakin sulit sampah diolah atau dibakar, maka semakin kecil listrik yang dihasilkan.

Pada salah satu ruang peraga di gedung itu, terdapat papan indikator yang secara fluktuatif menunjukkan berapa besar daya yang dihasilkan pada saat itu. Saat kami berada di tempat itu, indikator menginformasikan besarnya daya yang dihasilkan, kurang lebih 10.520 kW, atau setara dengan daya yang dapat menghidupkan 21.060 buah vacuum cleaner dengan konsumsi masing-masing 500 W, secara berbarengan.

Indikator output

Maishima Plant Osaka, yang beroperasi 24 jam non-stop dan mempekerjakan 100 orang, menyimpan banyak hal mengagumkan buat kami. Higuchi, melalui pak Willy penerjemah kami, sempat menanyakan apakah tadi melihat asap yang keluar melalui menara cerobong. Kami menjawab “tidak”, dengan sedikit ragu, karena memang sebagian dari kami tak menyangka bahwa bangunan menjulang tinggi yang mirip menara masjid tersebut adalah cerobong asap. Di sini ternyata Higuchi ingin menjelaskan bahwa Maishima Plant Osaka menggunakan teknologi tertentu untuk menyulap asap menjadi udara biasa, yang kemudian dibuang melalui menara tersebut.

Reklamasi Laut

Keiichi Higuchi menerima kami dalam ruang kelas, dan menjelaskan dalam bahasa Jepang mulai dari sejarah gedung itu sampai dengan kinerja Maishima Plant Osaka saat ini. Kami diajak keliling untuk melihat-lihat beberapa ruang utama pada gedung itu.

Menurut Higuchi, di Osaka saja terdapat 8 tempat pengolahan sampah. Namun, satu-satunya tempat dengan disain unik untuk menarik minat anak-anak, dan menggunakan teknologi paling mutakhir, hanya di Maishima Plant Osaka ini.

Dari sini, saya mengajukan pertanyaan kepada Higuchi, apa bedanya dengan gedung di seberang Maishima Plant Osaka, yang juga memiliki arsitektur mirip. Higuchi menangguhkan jawabannya, dan katanya akan dijelaskan kemudian. Saya tergelitik untuk tetap bertanya, ketika di dalam kelas saya menemui gambar gedung yang mirip dengan Maishima Plant Osaka tersebut. Pertanyaan kedua saya, sengaja tetap tak dijawab oleh Higuchi.

Tibalah kami di sebuah lorong dimana terpampang beberapa foto arsitektur karya Master Hundertwasser. Salah satunya adalah sketsa gedung yang terletak di seberang Maishima Planto Osaka. Higuchi mulai menjelaskan, bahwa gedung itu sebenarnya masih bagian dari Maishima Plant Osaka. Tetapi sampah yang diolah berbeda dengan tempat yang saat itu kami kunjungi. Gedung di seberang, khusus mengolah sampah (kotoran) manusia alias feses.

Kemudian kami tanya, feses itu diolah menjadi apa. Sambil menahan tawa, Higuchi mengatakan bahwa sampah tersebut diolah untuk dijadikan material bangunan seperti bata merah atau bahan pengeras jalan. Bahkan, katanya lagi, untuk mereklamasi laut hingga menjadi bandara Kansai di Osaka, sebagian bahan adalah hasil olahan dari tempat itu. Luar biasa!

Mampukah Kita?

Saya sempat mengajukan pertanyaan, berapa besar cost untuk membangun gedung dengan teknologi seperti ini? Higuchi mengambil secarik kertas lalu menuliskan angka yang agak fantastis, yaitu 60.000.000.000 yen, ekivalen sekitar 6 trilyun rupiah.

Menariknya, Higuchi melalui penerjemah kami memberikan sinyal keheranan ketika saya katakan bahwa secara cost, Indonesia sebenarnya mampu untuk membangun tempat pengolahan secanggih itu. Murah? Begitu kata Higuchi meragukan kami. Saya jawab, ya murah, karena di Indonesia, kejahatan saja bisa melahap uang lebih dari itu. Kontan Higuchi tertawa terkekeh. Entah lucu atau kasihan kepada kami.

Namun, jika disimak dengan cermat penjelasan Higuchi, kemampuan mengolah sampah hingga seperti itu, sebenarnya tak hanya semata-mata dijamin oleh teknologi canggih yang mereka bangun. Kontribusi masyarakat Jepang yang disiplin untuk hidup bersih dan peduli kepada sampah serta kemauan untuk memilah sampah sejak dari rumah, sangat membantu Maishima Plant Osaka. Tanpa kesadaran masyarakat yang tinggi, teknologi yang ada tidak akan efisien.

Jika merujuk penjelasan Higuchi mengenai hal itu, bagi Indonesia kelihatannya masih dibutuhkan jalan panjang. Tak cukup hanya dengan dana 6 T rupiah. Masih diperlukan proses social engineering, agar terjadi perubahan perilaku masyarakat dalam memperlakukan sampah, sebelum kita bermimpi memiliki “mall” di tengah kota, yang di dalamnya ternyata berfungsi mengkonversi sampah menjadi listrik.

sayonara ...

Akhirnya, sebelum kami berpamitan pulang, Higuchi meminta kami menuliskan pesan dan kesan yang akan ditempel di tempat yang telah disediakan. Kami kemudian meninggalkan sebuah kalimat, “Hebat! Suatu saat Jakarta juga punya”. (jozz)

(Ucapan terima kasih kami sampaikan kpd  Kepala ITPC Osaka Ibu Julia Silalahi yang telah memfasilitasi acara ini dan Pak Willy yang dengan rela menjadi penerjemah)

Advertisements

8 Responses to “Melongok Tempat Sampah di Osaka”

  1. prett Says:

    Tak dapat dipungkiri dalam hal tekhnologi Jepang memang yang terdepan, tak dapat dipungkiri juga pemahaman tentang perlakuan sampah Jepang juga terdepan, hal ini dibuktikan dengan adanya pelajaran khusus mengenai perlakuan sampah sejak taman kanak-kanak.

    Lalu kenapa Indonesia masih punya Bantar Gebang?
    jawabnya banyak, antara lain :
    – karena dananya masih dipakai untuk membeli mobil mewah buat para pejabat
    – pemahaman masyarakat tentang pentingnya perlakuan sampah yang berbeda masih kurang, boro-boro ada waktu misahin sampah wong buat cari makan aja kurang waktunya
    – malas, minim kepedulian lingkungan dan kurang kretifitas, daripada capek-capek bikin keramik dari kardus bekas yang punya nilai jual, lebih baik ngamen di bis yang langsung ketauan hasilnya.

    sekarang yang tertinggal hanya sebuah pertanyaan, kapankah Indonesia bisa seperti Jepang dalam hal penanganan sampah seperti cerita diatas?

  2. ira.1 Says:

    Jeng Arsie, Mungkin karena di Jepang miskin pemulung, jadi harus melibatkan teknologi canggih utk mengurai sampah … Matur nuwun sampun mampir …

  3. prett Says:

    tak pikir sih bukan sekedar masalah pemulung, tapi kesadaran kita terhadap lingkungan, tanpa pemulung kalau kita kreatif banyak berguna lho sampah itu.
    saya kemarin mampir ke rutan untuk wasmat, ternyata para napi disana juga diajari memanfaatkan kardus-kardus bekas, mereka diajari ketrampilan membuat keramik dari kardus, bagus sekali jadinya, ada gentong bergambar ular naga yang dijual Rp. 250.000,-.. salutnya lagi mereka berkomitmen untuk mengembangkan usaha ini setelah keluar dari rutan, langsung saya toss sama mereka..plakk…hidup napi kreatiff !!! (tentunya setelah mewanti-wanti supaya keluar dr rutan nanti tidak lagi mengulangi tindak pidana)

    hehehhh

  4. Anonymous Says:

    walah, jaga langganan sama napi ya jeng Arsie?

  5. Fini Says:

    Jadi pengen pergi ke Maishima Plant Osaka rasanya. .saya juga berdo’a semoga indonesia punya teknologi yang gak kalah sama di Jepang, terus orang-orang Indonesia juga makin peduli terhadap lingkungannya. . Hidup Indonesia bersih!

  6. Saya SaRah Says:

    semoga Indonesia juga bisa

  7. Alex Says:

    Berpikir positif jika indonesia juga bisaaa…


  8. Thanks for the review, I’ve admired Sherry Turkle’s writing. I didn’t realise she has a new book and am checking it out right now!ncheersn Click http://s.intmainreturn0.com/people3091630


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: