Perjalanan yang mengesankan

June 19, 2008

Jika anda pernah menonton adegan taksi ngebut dalam film TAXI (entah TAXI berapa), itu lah yang terjadi pada saya hari Selasa (17/06) lalu. Rencana perjalanan menuju ke Pekanbaru yang sedianya akan dilakukan Selasa sore, mendadak Selasa subuh boss perintahkan saya untuk terbang pagi itu juga. Lebih mengagetkan lagi, perjalanan yang tadinya direncanakan bertiga, boss dan 2 dayang-dayang —saya salah satu dayang-dayang itu—, tiba-tiba boss perintahkan kepadaku untuk terbang ‘solo’ menuju Pekanbaru.

Alhasil, karena waktu yang ada sangat mepet, maka saya segera pesan taksi lalu meluncur ke Cengkareng dengan kecepatan tinggi. Pukul 05.30 WIB saya keluar dari kediaman di Rawa Bambu Pasar Minggu, taksi menemui 2 kali kemacetan. Pertama di Kalibata dan kemacetan kedua terjadi di tol menjelang bandara.

Tiba di bandara pukul 07.00. Pesawat Garuda yang akan saya tumpangi dijadwalkan terbang pukul 07.00 juga. Jadi, saya tidak bisa naik ke pesawat itu. Akhirnya saya putuskan untuk naik pesawat Garuda pada jam penerbangan berikutnya, yaitu pukul 11.40. Tapi dengan status waiting list, dan naik menjadi kelas bisnis pula. Artinya, saya harus merogoh kocek lagi karena tiket saya sebelumnya adalah kelas ekonomi.

“Perjuangan” merebut posisi waiting list ternyata tidak mudah. Perlu upaya-upaya tertentu a la Indonesia, yang tidak perlu diceritakan di sini tapi sudah menjadi rahasia umum. Dan akhirnya, “perjuangan” itu tak sia-sia, saya mendapatkan tempat duduk di kelas binis dengan nomor 4E.

Setelah boarding, saya menempati kursi saya. Beberapa saat kemudian seorang bapak duduk di sebelah saya, dan menegur memberi salam kepada saya. Setelah ngobrol ringan sana-sini, akhirnya pada saat pesawat menjelang take-off, kami saling berkenalan. Ternyata saya baru tahu bahwa yang duduk di sebelah saya itu adalah Bapak Norman Wahab Wakil Bupati Bengkalis. (Mohon maaf Pak Norman, karena keterbatasan pengetahuan saya, sehingga saya sampai kurang mengenal pejabat negara seperti Bapak).

Suatu pengalaman penerbangan yang sulit dilupakan. Seolah penerbangan selama 1 jam 30 menit menjadi tak terasa. Betapa tidak, selama penerbangan saya rasanya seperti mendapatkan ‘pencerahan’ dari obrolan saya dengan Pak Norman. Banyak hal yang kami obrolin selama dalam pesawat, dari mulai yang ringan-ringan hingga masalah politik di negeri ini. Sebagai aktor politik, saya kira informasi beliau merupakan informasi yang akurat. Pengalaman yang sangat mengesankan bagi saya.

Respon yang simpatik dari Pak Norman ternyata tidak hanya berhenti di situ. Setelah Garuda landing di bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, beliau menemani saya dan memastikan apakah saya ada yang menjemput ke bandara untuk diantar menuju salah satu hotel tempat acara yang akan saya hadiri. Oleh karenanya, Pak Norman dengan sedikit memaksa menawarkan untuk mengantarkan saya menuju hotel bersama mobil dinas beliau. Saya terpaksa menolak karena tentu akan merepotkan Pak Norman dan beberapa pengawal beliau.

Setelah saya menelpon salah satu panitia dalam acara yang akan saya hadiri, dan mendapat kepastian bagaimana saya menuju hotel, maka Pak Norman berpamitan meninggalkan saya. Lagi-lagi beliau menunjukkan sikap yang sangat simpatik. Pak Norman meminta saya untuk menelpon beliau, jika saya bermalam di Pekanbaru. Dan, ketika saya akhirnya harus bermalam di hotel tersebut, saya mengontak Pak Norman untuk sekedar mengabarkan bahwa saya terpaksa menginap di Pekanbaru karena acara baru selesai menjelang maghrib. Pak Norman kemudian menawarkan kepada saya kendaraan untuk sekedar digunakan keliling-keliling kota Pekanbaru. Karena saya capek dan ingin istirahat di kamar hotel, tawaran itu pun terpaksa tidak bisa saya terima.

Keesokan harinya (Rabu, 18/06), saya kembali ke Jakarta. Jadwal penerbangan jam 09.10 take-off dari Pekanbaru. Saya coba lagi kontak beliau, tapi telpon seluler beliau tidak aktif. Kemudian saya meninggalkan pesan singkat via SMS kepada beliau, berpamitan bahwa saya akan segera meninggalkan Pekanbaru menuju Jakarta.

Btw, acara yang saya hadiri, mewakili boss, berjalan dengan lancar. Saya mendapat kesempatan paparan selama 1 jam 15 menit. Selesai itu saya istirahat di kamar. Saat makan malam, secara tidak sengaja saya berkenalan dengan Bang Edi Cornelis, promotor tinju yang akan mengadakan kejuaraan tinju di Pekanbaru.

Perjalan singkat tapi cukup menyenangkan. (joz)

Advertisements

6 Responses to “Perjalanan yang mengesankan”

  1. hadiwibowo Says:

    mantab bos….
    pilkada berikutnya saya pilih Pak Irawan
    terserah pak Irawan mau mencalonkan jadi apa, saya akan pilih…….

  2. ira.1 Says:

    Mas Antz,
    sayangnya saya gak akan ikut Pilkada, terlanjur jd kontestan Pilkasan …:)

  3. adil Says:

    Seneng deh mbaca tulisan Om

    Tapi Adil jadi dek-deg-an deh kalo naik mobil kenceng untuk ngejar pesawat … kata Ayah bahaya naik mobil kenceng

    Tetapi kalo masuk waiting-list Adil jadi seneng, soalnya Adil bisa jalan-jalan liat-liat bandara…

    Om… nanti kalo ke Pekan Baru lagi, kasih tau Adil ya…
    karena rumah Opa Adil disana… jadi nanti bisa dijemput sama Opa Adil

    Hati-hati di jalan Om

  4. dhungda Says:

    Mas, pengalaman yg kayak ginian nih yg menambah warna hidup kita dan pastinya pengalaman yg sangat tidak ternilai harganya.

  5. Aris Says:

    Joz jadi mau ikutan pilkasan dimana? Klaten?

    Btw ini mewakili boss yg mana? Ragunan atau Ridwan Rais?

  6. ira.1 Says:

    Bos yg dekat kantor mas AHU dong mas. Pilkasan pun juga disitu 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: