Hajatan Demi Industri Kreatif

June 5, 2008

JCC Melalui Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI), pemerintah sedang berupaya membuka peluang lebih luas bagi pelaku usaha industri kreatif, karena potensinya yang cukup besar. Berdasarkan pemetaan Departemen Perdagangan, pada tahun 2007 sektor industri kreatif mencatatkan nilai ekspor sebesar 81.4 triliun rupiah atau sekitar 9.13% dari total nilai eskpor nasional, dan menyerap 5.4 juta tenaga kerja.

Industri kreatif (sering dibolak-balik dengan istilah ekonomi kreatif) merupakan terminologi yang relatif baru, walaupun dalam prakteknya sub sektor pada industri ini bukanlah sesuatu yang baru. Terdapat beberapa definisi mengenai industri kreatif, namun pada umumnya semua definisi merujuk kepada satu karakteristik tertentu yaitu industri yang menghasilkan produk berbasis kreativitas dan karya intelektual. Industri kreatif memiliki beberapa sub sektor, yaitu periklanan, arsitektur, seni, kerajinan, disain, fesyen, film, musik, pertunjukan seni, penerbitan, riset, pengembangan software, produk mainan dan games, TV dan Radio.

Hari pertama perhelatan PPBI, dibuka dengan seminar bertema “Warisan Budaya Indonesia Inspirasi Kebangkitan Ekonomi Kreatif”. Seminar yang dimulai pada tengah hari ini menampilkan pembicara utama Mendag Mari Pangestu. Menteri menyampaikan materi bertopik Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan pembicara lain yaitu John Hartley dari Queensland Univ. of Technology, serta 2 orang panelis yaitu Kittiratana Pitipanich (Thailand Creative and Design Center) dan Prof. Martin Reiser (Nanyang Technology Univ).

Pada sesi berikutnya, panelis yang tampil adalah para tokoh dan insan nasional yang dianggap berpengaruh terhadap kemajuan industri kreatif. Mereka adalah Prof. Sardono W. Kusumo (Rektor IKJ), Prof. Djoko Santoso (Rektor ITB), Fauzi Aziz (Dirjen IKM Depperin), Aurora (mewakili Gubernur DKI), Felia Salim (BNI), Rachmat Gobel (mewakili KADIN) dan Onno Purbo (pelaku industri kreatif). Hingga acara selesai, seminar dipandu oleh Jaya Suprana.

Ada beberapa pendapat yang menurut saya cukup menarik untuk dicatat pada acara itu. Salah satu panelis, Sardono W. Kusumo, menyatakan bahwa mewarisi budaya bangsa (sebagai spirit industri kreatif) tidak perlu harus terjebak kepada hal-hal tradisional atau sejarah. Sebab, hal-hal yang “kuno” pun, dulunya juga pernah baru ketika hal itu ditemukan. Jadi spirit kreativitas juga perlu dikembangkan untuk hal-hal baru. Ia memberikan contoh temuan Onno Purbo tentang kaleng bekas yang ternyata dapat dijadikan antena bagi internet nirkabel. Menurutnya, temuan Onno merupakan kreativitas yang sifatnya baru.

Pada acara tersebut, Jaya Suprana memanfaatkan kesempatan itu untuk memberikan sertifikat MURI kepada Sardono. Uniknya, Sardono menerima 2 sertifikat sekaligus, dimana salah satu sertfikat MURI yang diberikan adalah berkat “rekor” Sardono yang telah berhasil menghindar (menolak) pemberian sertifikat MURI selama 3 tahun… 🙂

Ada pernyataan lain yang juga menarik. Seorang pria, peserta seminar dari ITS Surabaya, menyatakan bahwa gagasan untuk mengembangkan industri kreatif akan terasa sia-sia jika tidak diimbangi dengan kurikulum sekolah. Jika selama ini kurikulum masih berbasis kompetensi, menurutnya masih belum nyambung dengan rencana untuk menggenjot potensi kreatif anak-anak bangsa. Ia berpendapat bahwa Mendiknas harus segera menyesuaikan kurikulum nasional menjadi Kurikulum Berbasis Kreativitas.

Pendapat lain yang tak kalah menarik datang dari seorang wanita, arsitektur ITB, yang menyatakan bahwa dalam konteks industri kreatif, biarkanlah para pelaku industri kreatif itu berkreasi secara bebas bak burung yang terbang di udara. Pemerintah tak perlu mengintervensi terlalu jauh, karena pemerintah bukanlah pelaku utama dalam konteks ini. Tapi, ketersediaan ruang gerak dan aktivitas pelaku industri kreatif memang menjadi faktor keberhasilan mereka.

Mengenai Onno, materi presentasinya masih “konsisten”, seputar internet radio dan VoIP Merdeka …:)

Itulah sekilas laporan pandangan mata pada pembukaan PPBI, Rabu (4/06) di Jakarta Convention Center. Selain pameran produk-produk budaya Indonesia, terutama produk industri kreatif, selama PPBI berlangsung juga diadakan seminar serta lokakarya. Rencananya seminar dan lokakarya akan berlangsung sampai Sabtu (7/06) sedangkan pameran akan ditutup pada Minggu (8/06). (jozz)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: