Menunggu Putusan?

September 18, 2007

Sekilas terkesan tidak ada yang salah, jika ada orang yang mengatakan “tunggu dulu putusan” pengadilan.

Sebetulnya sah-sah saja hal seperti itu dikemukakan jika memang perkara tersebut masih dalam proses pemeriksaan di pengadilan. Namun hal itu akan menjadi janggal, apabila otoritas pengadilan telah mengumumkan putusannya tetapi berbagai pihak masih juga enggan melakukan tindak lanjut karena beralasan “belum” menerima putusan pengadilan, sehingga masih “menunggu putusan” pengadilan.

Selain akan menghambat proses eksekusi, masalah formil seperti ini juga akan membuka peluang terjadinya penyalahgunaan dalam penyampaian putusan pengadilan. Begitu pentingnya arti “sehelai kertas” berisi putusan pengadilan, walau esensinya sudah dipublikasikan, akan membuat pihak yang berkepentingan terpaksa merogoh kocek guna mendapatkan selembar kertas berisi putusan pengadilan. Pentingnya mendapatkan selembar kertas tersebut, menimbulkan efek finansial bagi yang membutuhkan, dan sudah menjadi rahasia umum hal ini dimanfaatkan sebagai lahan untuk mencari makan bagi sebagian oknum pemegang otoritas.

Kasus Nurdin Halid yang belakangan banyak dibicarakan media massa karena belum memenuhi panggilan Kejaksaan, juga menunjukkan betapa secarik kertas yang namanya putusan pengadilan (dalam hal ini MA) terkesan menjadi begitu penting. Dalam kasus ini Agung Laksono pun yang seorang Ketua DPR, merasa harus melihat dulu putusan MA-nya, padahal Bagir Manan dalam kapasitas sebagai Ketua MA sudah beberapa kali menyampaikan hal tersebut kepada media massa. Artinya, isi dari putusan MA itu telah diumumkan atau disampaikan secara lisan kepada publik melalui semua media massa oleh Ketua MA.

Untuk masalah seperti ini, ada baiknya kita melihat apa yang dilakukan oleh Mahkamah Konsitusi kita. Semua perkara yang sudah diputuskan, akan diumumkan melalui situs resminya lengkap dengan berkas putusannya. Jadi, pihak yang berkepentingan tidak perlu lagi menunggu putusan, tetapi tinggal ‘print-out’ dari web-site MK.

Jika semua badan peradilan di Indonesia sudah seperti apa yang dilakukan MK, rasanya tidak ada lagi alasan yang dibuat-buat untuk tidak mengindahkan putusan pengadilan karena masih menunggu-nunggu secarik kertas berisi putusan pengadilan yang memang sengaja belum diterimakan kepada para pihak. (joz)

Powered by ScribeFire.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: