Di tengah ketatnya persaingan usaha dan bisnis seperti sekarang ini, diperlukan suatu kiat agar upaya yang kita lakukan dapat menghasilkan sesuatu yang lebih kompetitif. Untuk merespon fenomena itu, ada kiat populer yang pernah didalilkan oleh Hermawan Kartajaya, yaitu “me too is not my style”. Artinya, bahwa upaya dan langkah yang kita bangun hendaklah jangan sekedar mengekor. “Me too”, saya juga (lakukan seperti kebanyakan orang lain telah lakukan). Kenali karakter dan potensi diri, lalu berdayakan secara unik, yang orang lain tidak atau belum lakukan.
Ada yang bisa direnungkan dari dalil Hermawan Kartajaya itu, dihubungkan dengan pemberdayaan potensi. Potensi yang dimiliki oleh sebuah perkumpulan. Perkumpulan itu adalah ikatan para lulusan akademi yang konon saat ini tersebar di banyak negara di luar negeri.
Tersebarnya anggota perkumpulan tersebut, adalah sebuah kekuatan yang luar biasa. Bagaimana tidak? Sebuah harian yang paling terkenal di Jakarta saja, Kompas (versi cetaknya), hanya memiliki (kalau tidak salah) seorang koresponden di luar negeri, yaitu di Cairo. Sedangkan Detikcom, sebuah media terkenal dengan platform internet, kalau anda buka, hanya akan ditemukan 3 nama koresponden luar negeri yang berada di 3 negara, Inggeris, Belanda dan Amerika Serikat.
Sementara itu, perkumpulan alumni ini memiliki anggota yang tersebar di hampir semua penjuru ibu kota negara-negara di dunia. Bayangkan apabila Surya Paloh atau Parni Hadi yang menahkodai perkumpulan alumni ini. Niscaya perkumpulan ini akan diberdayakan layaknya sebuah media massa. Dengan tenaga peliput berita on-the-spot yang berada dimana-mana di setiap ibu kota negara.
Kongkritnya, perkumpulan alumni ini mestinya dapat lebih diberdayakan lagi dengan membangun sebuah situs yang khusus menyampaikan berita-berita terkini dari seluruh penjuru dunia. Dengan kata lain, membangun NEWS portal, untuk menyampaikan berita-berita aktual dari seluruh dunia. Mirip Detikcom, tetapi dengan jangkauan yang jauh lebih luas dan konten khusus masalah internasional.
Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya, apabila mereka itu semua secara rutin mengirimkan berita terkini yang terjadi di kota (negara) tempat tugasnya masing-masing. Mungkin yang di Amerika Serikat memberikan “laporan pandangan mata” atas kasus Mark Foley dengan email mesumnya; yang di Inggeris meliput respon publik Inggeris atas statement Jack Straw tentang jilbab wanita muslim; yang sedang bertugas di Korea menyampaikan liputan dan perkembangan terkini tentang rencana percobaan senjata nuklir serta kunjungan PM Jepang Shinzo Abe ke China. Yang sedang bertugas di Belgia? Jangan ditanya lagi, terlalu banyak berita yang bisa diwartakan dari Brussel. Apalagi anggota alumni yang kini tengah bertugas di Brussel ini sangat gemar meliput berita.
Bahkan mungkin akan lebih dahsyat lagi, portal yang dibuat oleh perkumpulan alumni ini juga mampu meliput berita yang terjadi di negara-negara “antah berantah” seperti di Sudan, Nigeria, Tanzania, Afghanistan dan lain-lain. Di lain pihak, minimnya koresponden luar negeri bagi koran atau harian konvensional (Indonesia), membuat mereka hampir tidak mungkin melakukan liputan secara langsung, real time dan on-the-spot setiap peristiwa yang terjadi di tempat-tempat seperti itu.
Lalu apa hubungannya dengan “me too is not my style”? Kalau sebuah organisasi atau perkumpulan hanya bisa menarik iuran untuk kemudian disumbangkan kepada pihak ini dan itu, membantu korban bencana, membiayai dan menggelar seminar, kedengarannya sudah jamak dilakukan. Tetapi bila sebuah perkumpulan atau organisasi menghimbau dengan sangat kepada anggotanya untuk menyumbangkan secara rutin news atau artikel yang terkait dengan negara akreditasinya, inilah barangkali yang dimaksud dengan “me too is not my style”.
Selain akan memberikan efek pembelajaran yang mendalam bagi para anggota alumni itu sendiri (karena “terpaksa” harus membaca koran lokal setiap hari, kemudian menerjemahkan, mengedit dan mengirim ke webmaster di Jakarta), apabila situs yang dikelola itu menarik sehingga banyak dibaca orang, maka sudah menjadi “hukum” di internet, bahwa pemasang iklan pun juga tertarik untuk bergabung. So, tidak perlu kutip-kutip iuran lagi kan? (joz)
Setuju Mas mungkin bisa diberdayakan lebih dari sekedar “information gathering” utk news portal tapi lebih mengarah kepada pengumpulan informasi intelijen… apa tidak elok kalo dlm rapat kabinet … RGN1 bisa menyampaikan pandangan yg berbeda dr instansi lain .. potensi ada … saluran ada … tinggal dipraktekkan saja…..
Kalau informasi intel kan memang mestinya sdh jadi fardlu ya mas. Dan itu mungkin sifatnya diskreet, gak perlu melalui portal serta publikasi.
Kalo ide ini barangkali hanya sekedar mentriger “raksasa bobo” gitu lho mas … masa potensi SDM tersebar seantero jagad, pemberdayaannya cuman nyawer dodol (misalnya). Tanpa nyawer dodol, andai kata kalau bisa nyawer info terkini ttg negara akreditasi kan portalnya bisa rame iklan kayak detikcom. Kalau udah rame iklan begitu, mustinya gak perlu ada iuran member lagi, malah sebaliknya, ketua perkumpulan sekali-sekali bisa kirim dividen gitu mas …
anyway, thx komennya.
salam.
Om Ojozz yang semakin keren,
idenya cukup realistis dan sangat aplikatif. saya siap jadi salah satu kontributornya kalau memang bisa terealisir. untuk membuat suatu dotnews secara teoritis saat ini sebenarnya tidak terlalu sulit. yang agak sulit adalah merubah mental the follower menjadi the initiator. praktik di lapangan memperlihatkan organisasi alumni yang kita miliki pun tidak terdengar gaungnya. salah satu sebabnya ya masih kentalnya mental the follower dan birokrasi.
untuk itu om ojozz, agar ide yang sangat baik ini dapat mulai bergulir, bagaimana kalau om ojozz mulai melemparkannya ke forum ikatan alumni? sebagai moderator milis visi70, saya sangat menganjurkan untuk memanfaatkan forum tsb utk mensosialisasikan gagasan yg baik ini. kalau gak ada tanggapan, ya mungkin nanti nunggu saya dan dadung cs balik ke betawi kali yeee …
salam dan ditunggu tulisan berikutnya
tambahan dikit lagi jozz,
selain membuat dotnews, terobosan lain bisa digagas secara kreatif misalnya pembuatan script-script dan pixelads di internet. trendnya saat ini sedang meningkat dan penjualannya seperti kacang goreng. jadi akan menarik jika berjualan news plus script. gue sich mungkin cuma kontribut news aja, smentara dadung cs bisa kontribut script
Cher frere … Mas AHU yg budiman,
saya sgt setuju dgn hambatan yg mungkin timbul spt yg mas AHU prediksi. Tapi, itulah barangkali fungsinya seorang dirigen dlm sebuah orkestra, atau seorang komandan dlm sebuah barisan upacara (yg ruajin bgt kita laksanakan
…
)
Kalau masalah belum ada gaung, mungkin kita harus berprasangka baik dulu, karena kan sedang menata manajemen yg baru, “baru” setahun.
Apapun idenya, saya pikir tadinya hanya berniat membangunkan “raksasa yg sedang lelap tertidur” itu mas. Kalau mas AHU punya ide kreatif yang lain, itu sangat dianjurkan, dan kita semua dlm organisasi alumni ini mestinya sangat bersyukur punya anggota yg kaya dengan ide serta gagasan spt mas AHU.
Silakan saja ide ini dilempar ke visi70 mas, bila pak Moderatornya berkenan, supaya ide dan pesan ini lebih nyampe dan terfokus kepada komunitas yang dituju.
Saya sih hanya pemandu sorak saja …
Btw, kenapa musti nunggu mas AHU dan Dadung pulang ke Betawi? Bukankah justru ketika mas AHU masih di Brussels spt skrg, kita bisa berharap kontributor spt mas AHU bisa lebih produktif. Demikian pula mas Dadung yg lagi di Belgrade sana, tentunya justru saat inilah beliau lebih kaya informasi ttg Yugo dan sekitarnya.
En tout car, merci de votre message, et bon courage.
Salutation …
dukung 100% persen om Jozz … tak link ke blog ane ya.
Ok thank you Oom Dadung. Resiprokal deh kalo begitu …