Feed on
Posts
Comments

Jika anda pernah menonton adegan taksi ngebut dalam film TAXI (entah TAXI berapa), itu lah yang terjadi pada saya hari Selasa (17/06) lalu. Rencana perjalanan menuju ke Pekanbaru yang sedianya akan dilakukan Selasa sore, mendadak Selasa subuh boss perintahkan saya untuk terbang pagi itu juga. Lebih mengagetkan lagi, perjalanan yang tadinya direncanakan bertiga, boss dan 2 dayang-dayang —saya salah satu dayang-dayang itu—, tiba-tiba boss perintahkan kepadaku untuk terbang ’solo’ menuju Pekanbaru.

Continue Reading »

JCC Melalui Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI), pemerintah sedang berupaya membuka peluang lebih luas bagi pelaku usaha industri kreatif, karena potensinya yang cukup besar. Berdasarkan pemetaan Departemen Perdagangan, pada tahun 2007 sektor industri kreatif mencatatkan nilai ekspor sebesar 81.4 triliun rupiah atau sekitar 9.13% dari total nilai eskpor nasional, dan menyerap 5.4 juta tenaga kerja.

Continue Reading »

Akhir dari suatu pertarungan (politik), pemenang biasanya akan ‘menghakimi’ pihak yang kalah. Sebagai contoh, keberadaan tentara Amerika Serikat di Okinawa merupakan konsekuensi atas kekalahan Jepang dari Amerika Serikat pada Perang Dunia ke-2.

Dalam skala nasional, tumbangnya rezim Orde Lama oleh orde yang lebih baru, juga ditandai dengan proses penumpasan semua elemen dan unsur-unsur orde lama. Dibentuk Mahmilub untuk menghakimi pelaku-pelaku militer. Oleh Orde Baru, semua simpatisan Orde Lama dan komunis, tidak diberi ruang gerak sama sekali. Dibuat larangan untuk mempelajari ajaran-ajaran yang dianggap bertentangan dengan ideologi Orde Baru.

Continue Reading »

Time vs Soeharto

Beberapa hari belakangan ini, hampir semua media mengulas putusan MA yang memenangkan Soeharto dalam kasusnya melawan Time. Di Kompas, opini dari para pakar mengenai Time vs Soeharto ini dimuat sejak minggu lalu. Sampai hari ini masih ada opini senada yang dimuat di Kompas, antara lain tulisan Rocky Gerung, dan Satjipto Rahardjo.

Continue Reading »

Menunggu Putusan?

Sekilas terkesan tidak ada yang salah, jika ada orang yang mengatakan “tunggu dulu putusan” pengadilan.

Sebetulnya sah-sah saja hal seperti itu dikemukakan jika memang perkara tersebut masih dalam proses pemeriksaan di pengadilan. Namun hal itu akan menjadi janggal, apabila otoritas pengadilan telah mengumumkan putusannya tetapi berbagai pihak masih juga enggan melakukan tindak lanjut karena beralasan “belum” menerima putusan pengadilan, sehingga masih “menunggu putusan” pengadilan.

Continue Reading »

Kompas, 30 April 2007

Oleh: Lin Che Wei, Direktur Utama Danareksa Neda dan Yoga

Tidak peduli apakah regulator dan pemerintah hendak mengakui atau tidak, Indonesia bagaikan surga bagi perusahaan yang melakukan penipuan berkedok investasi. Pertimbangkan hal ini!

Wakil kita yang mengurusi masalah perbankan dan keuangan di DPR—yang dapat dengan mudah mencari dan menyelidiki informasi tentang lembaga keuangan—malah menjadi korban penipuan berkedok investasi.

Pemimpin media terkemuka—yang bisa dianggap sangat pandai dan kritis terhadap isu-isu terkini—malah menjadi korban penipuan berkedok investasi.

Mantan direktur badan usaha milik negara, yang seharusnya mengerti risiko dan seharusnya dapat membedakan mana perusahaan yang bonafide dan mana yang tidak, juga menjadi korban penipuan berkedok investasi.

Continue Reading »

Mimpi itu bernama visi

Tidak jarang orang bersikap skeptis terhadap “mimpi”. Karena tidak jarang pula orang agak susah membedakan antara “mimpi” dengan fantasi. Celakanya, hal-hal yang bersifat visoner pun seringkali disikapi dengan tak acuh seolah visi itu sekedar fantasi belaka.

Presiden SBY mencoba untuk bersikap positif menanggapi mimpi yang diwacanakan oleh Yayasan Indonesia Forum. Menyikapi visi 2030 yang dikemukakan oleh yayasan tersebut, SBY menyatakan jangan malu dengan mimpi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mempunyai mimpi dan mewujudkannya.

Continue Reading »

Indonesia Paradox

Kompas, 28 Nopember 2006

Oleh: Makmur Keliat

Tulisan Todung Mulya Lubis di Kompas, Kamis (2/11), menarik untuk diperbincangkan. Dalam tulisan dengan judul “Singapore Paradox” itu ia, antara lain, menyebutkan bahwa Singapura dapat berbuat banyak membantu Indonesia untuk memerangi korupsi di negeri ini. Bantuan tersebut, misalnya, dengan tidak mengizinkan dana-dana hasil korupsi dari Indonesia diparkir di negeri berpenduduk 4,5 juta jiwa itu.

Continue Reading »

Sungguh menarik apa yang disampaikan oleh Todung Mulya Lubis (TML) di harian Kompas, Kamis 2 Nopember 2006 lalu. Walaupun tema itu sebenarnya adalah cerita lama dan obrolan sehari-hari setiap orang yang memerhatikan fenomena kejahatan transnasional, TML mengupas fenomena itu dengan lebih tajam karena ia kemukakan dengan data yang diambil dari sebuah survey.

Hampir semua orang, bahkan masyarakat umum sekalipun, sebenarnya telah mengarahkan tudingannya kepada negara tetangga kita itu sebagai surganya para koruptor. Semua orang juga tahu bahwa sampai saat ini, Singapore masih enggan untuk melakukan kerjasama bilateral dengan Indonesia, guna memerangi kejahatan transnasional yang melibatkan yurisdiksi Singapore dan Indonesia.

Continue Reading »

Mengerahkan potensi alumni

Di tengah ketatnya persaingan usaha dan bisnis seperti sekarang ini, diperlukan suatu kiat agar upaya yang kita lakukan dapat menghasilkan sesuatu yang lebih kompetitif. Untuk merespon fenomena itu, ada kiat populer yang pernah didalilkan oleh Hermawan Kartajaya, yaitu “me too is not my style”. Artinya, bahwa upaya dan langkah yang kita bangun hendaklah jangan sekedar mengekor. “Me too”, saya juga (lakukan seperti kebanyakan orang lain telah lakukan). Kenali karakter dan potensi diri, lalu berdayakan secara unik, yang orang lain tidak atau belum lakukan.

Ada yang bisa direnungkan dari dalil Hermawan Kartajaya itu, dihubungkan dengan pemberdayaan potensi. Potensi yang dimiliki oleh sebuah perkumpulan. Perkumpulan itu adalah ikatan para lulusan akademi yang konon saat ini tersebar di banyak negara di luar negeri.

Continue Reading »

Older Posts »